Kamis, 03 Januari 2013





SASTRA BANDINGAN: HUBUNGAN ANTARA NOVEL SAHABAT SEJATI KARYA TETHY EZOKANZO, KARYA DEWASA DENGAN NOVEL MY SOULMATE KARYA AZHARINE PURWA JINGGA ZK, KARYA ANAK

Oleh
Minatus Sholihah
(102144015)


Uneversitas Negeri Surabaya
Fakultas Bahasa dan Seni
Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia
Prodi Sastra Indonesia
2013

SASTRA BANDINGAN: HUBUNGAN ANTARA NOVEL SAHABAT SEJATI KARYA TETHY EZOKANZO, KARYA DEWASA DENGAN NOVEL MY SOULMATE KARYA AZHARINE PURWA JINGGA ZK, KARYA ANAK

Abstrak
Secara luas interteks diartikan sebagai jaringan hubungan antara satu teks dengan teks yang lain. Penelitian dilakukan dengan cara melakukan hubungan-hubungan bermakna d antara dua teks atau lebih. Hubungan yang dimaksudkan tidak semata-mata sebagai persamaan, melainkan juga sebaliknya sebagai pertentangan, baik sebagai parodi maupun negasi. Dalam novel Sahabat Sejati karya Tethy Ezokanzo dan novel My Soulmate karya Azharine Purwa Jingga Zk, merupakan dua novel yang menceritakan tentang kisah persahabatan dan kesetiaan anak-anak perempuan. Terdapat kesamaan unsur yang ada di dalamnya. Keduanya memiliki peranan sebagai tema kesetiaan yang dibangun sejak dini. Tokoh Aleeya pada novel Sahabat Sejati dengan tokoh Ferlin pada novel My Soulmete memiliki sudut pandang yang sama namun pembawaan ceritanya yang berbeda karena dari jenjang umur yang tak sama. 

Kata kunci: interteks, karya sastra, struktur karya sastra, intertens, hipogram.








BAB: I
Pendahuluan

A.    Latar belakang
Karya fiksi merupakan media yang tak akan bosan-bosannya memberikan ladang kritik bagi seorang peneliti dan pemerhati sastra di kencah kehidupan sastra sekarang. Dengan analisis karya fiksi dapat menyajikan gambaran kehidupan secara rinkes atau bisa dikatakan sebagai miniature kehidupan. Kepada sosiallah karya sastra berkiblat. Ia hadir dengan segala bentuk pengkritikan terhadap kehidupan yang berum bisa memberikan fungsi dan etensi yang penuh. Oleh karenanya karya sastra hadir menciptakan gelomnang pemikiran baru kepada masyarakat sastra untuk mengoreksi segala aneksi dan anekdot kehidupan.
Seperti bandul jam, pandangan seseorang untuk memaknai karya sastra tidaklah sama. Bandul jam senantiasa memiliki ribuan bayangan yang dalam karya sastra dinamakan sebagai taksiran yang akan menyerupai atau pesan yang memiliki pemaknaan yang hampir mendekati dengan makna yang ingin disampaikan oleh pengarang. Namun sebagai kekurangan dari pada itu, adanya kesalah pahaman yang membawa penafsiran yang fatal terhadap karya sastra, hal itu karna kurang didukungnya pemahaman dari segala pengalaman dalam kehidupan. Hal itulah yang kemudian menjadi kendala pada pengkritikus sastra dimasa sekarang. Karena adanya kesalah pahaman. Dengan demikian hal itu juga akan menjadi penanggulangan agar dapat menumbuhkan jiwa bangsa yang berfikir dengan kritis. Sebagai penegasan agar tidak terlalu panjang lebar, pembahasan makalah ini terletak pada struktur karya sastra yang nanti akan mencangkup seputar unsure intrensik. Yang meliputi: tema, tokoh dan penokohan, alur, dan sudut pandang karya sastra. Karena bagian tersebut merupakan sebagai pemantik pengarang dalam karyanya. Oleh karenannya penganalisis memilih bagian tersebut sebagai bahan yang sangat menarik untuk dibahas.
Hidup memang digerakkan oleh imajinasi, dibentuk oleh imajinasi, bahkan dirayakan dengan imajinasi. Melalui imajinasi manusia memahami dan membentuk dirinya, sesamanya, dan seluruh kehidupan ini. Tapi juga melalui imajinasi manusia menghancurkan diri, membunuh manusia lainnya, dan merusak bumi. Melalui imajinasi manusia mampu melihat yang tak terlihat, dan kehidupan menemukan kiblat. Karena imajinasi, manusia marah, menangis, tertawa, dan bahagia. Dunia manusia rupanya memang bukan dunia natural. Dunia manusia adalah dunia kultural: dunia imaji, dunia citraan, dunia yang diimajinasikan.
Sastra merupakan cermin masyarakat. Keberadaan karya sastra memang tidak lepas dari masyarakat dan kenyataan sosial di sekelilingnya. Karya sastra dapat hadir sebagai refleksi dari realitas sosial dan refleksi kesejarahan yang terjadi di masyarakat. Memang, sastra sebagai refleksi dari kenyataan masyarakat rasanya sulit diingkari kebenarannya, sebab seorang sastrawan tidak mungkin hidup terasing dari masyarakatnya, sehingga ia tidak buta dan tuli terhadap segala peristiwa yang terjadi di masyarakatnya. Sebagaimana dikemukakan oleh Goldmann bahwa karya sastra diciptakan oleh pengarang sebagai hasil dari sebuah proses merespons situasi lingkungan dan sosialnya (dalam Teeuw, 1984: 103). Oleh karena itu, karya sastra yang besar akan mampu mengidentifikasikan kecenderungan-kecenderungan sosial yang penting pada zamannya sehingga bisa mencapai ekspresi yang padu dengan realita.
Setiap karya pasti mempunyai referensi dari karya lain sebelum karya itu lahir dan menjadi karya yang baru. Karya yang baru tersebut secara otomatis mempunyai hubungan terhadap karya yang sebelumnya telah ada, dan hubungan tersebut disebut dengan intertekstual. Hubungan tersebut dapat secara eksternal maupun internal. Sebenarnya tidak hanya dua karya yang dapat dilihat mempunyai hubungan interteks. Dapat juga dalam karya satu dengan beberapa karya yang lain, tidak hanya dengan satu karya. Karya yang mempunyai hubungan interteks tidak hanya didapat dari satu jenis karya, misalnya novel dengan novel lain, cerpen dengan cerpen. Namun hubungan interteks tersebut dapat dilihat dari berbagai jenis, misalnya cerpen dengan lukisan, puisi dengan patung, dan sebagainya.
Dalam novel Sahabat Sejati karya Tethy Ezokanzo dan novel My Soulmate karya Azharine Purwa Jingga Zk, merupakan dua novel yang menceritakan tentang kisah persahabatan dan kesetiaan anak-anak perempuan yang melawan hasutan, hingga sampai pada saat mereka mengalami kedekatan yang harmonis, melankolis, dan dramatis. Oleh karena itu, penulis akan mengkaji hubungan antara kedua novel tersebut. Untuk dapat mengetahui bahwa kedua-duannya merupakan satu jenis.

B.     Pembatasan masalah
Pembahasan interteks memiliki beragam variasi yang tak henti-hentinya menjadi bahasan yang mendalam, namun penulis membatasi analisis interteks novel Sahabat Sejati karya Tethy Ezokanzo dan novel My Soulmate karya Azharine Purwa Jingga Zk pada unsur interinsik karya sastra. Yang kemudian akan didukung oleh penentuan hipogarm dan teks transformasi dari kajian intertekstual.

C.    Rumusan masalah
1.      Bagaimana synopsis novel Sahabat Sejati karya Tethy Ezokanzo dan novel My Soulmate karya Azharine Purwa Jingga Zk?
2.      Apa persamaan dan pebedaan novel Sahabat Sejati karya Tethy Ezokanzo dan novel My Soulmate karya Azharine Purwa Jingga Zk?
3.      Bagaimana penentuan hipogram dan teks transformasi dari kajian intertekstual pada Novel Sahabat Sejati karya Tethy Ezokanzo dan novel My Soulmate karya Azharine Purwa Jingga Zk?
4.      Apa perbedaan penggunaan bahasa, jenjang pendidikan dan latar atau setting dalam Novel Sahabat Sejati karya Tethy Ezokanzo dan novel My Soulmate karya Azharine Purwa Jingga Zk?

D.    Tujuan
1.      Dapat menjabarkan dan menganalisis Novel Sahabat Sejati karya Tethy Ezokanzo dan novel My Soulmate karya Azharine Purwa Jingga Zk
2.      Dapat mengetahui persamaan dan pebedaan novel Sahabat Sejati karya Tethy Ezokanzo dan novel My Soulmate karya Azharine Purwa Jingga Zk
3.      Dapat penentukan hipogram dan teks transformasi dari kajian intertekstual pada Novel Sahabat Sejati karya Tethy Ezokanzo dan novel My Soulmate karya Azharine Purwa Jingga Zk
4.      Dapat mengetahui perbedaan penggunaan bahasa, jenjang pendidikan dan latar atau setting dalam Novel Sahabat Sejati karya Tethy Ezokanzo dan novel My Soulmate karya Azharine Purwa Jingga Zk















BAB: II
Kajian teori

Dalam bukunya, Ratna menyebutkan “inter” mempunyai arti (di) antara, sedang kata “teks” berasal dari kata textus (Latin) yang artinya tenunan, anyaman, susunan, dan jalinan. Intertekstual dengan demikian didefinisikan sebagai hubungan atau jaringan antara satu teks dengan teks-teks lain (Ratna, 207: 212). Dalam teori interteks dibedakan antara kutipan, kerangka pemikiran, dan tiruan, khususnya dengan plagiat.
Terkutip dari perkataa A. Teeum(1994:142) bahwa untuk membuktikan kebenaran karya sastra tidak luput dari perbandingan karya sastra sebelumnya. Mengenai hal itu Teeuw memperoleh persoalanpenting terkait pembandingan dalam kaya sastra, diantaranya meliputi: (1) apa alas an untuk menerjemahkan atau menyadurkan karya sastra, (2) bagaimana hubungan tekstual antara tulisan asli dengan sandurannya, (3)apa peranan sanduran dalam sejarah sastra tersebut, apakah sastra mempengaruhi perkembangan sastra kemudian, (4) bagaimana nasib karya sastra tersebut selanjutnya: hidup terus atau dilupakan orang lain. Jika demikian, hal itu akan menjadi sumber dari sastra bandingan. Untuk mengenal lebih dalam lagi tentang perbandingan karya sastra akan lebih dalam di kaji dengan menggunakan pendekatan intertekstual. Dalam sebuah blog(10/11) mengatakan bahwa intertekstual adalah membandingkan, menjajarkan dan memkontruksikan karya tersebut dengan teks lain dengan mencari hypogram atau landasan penciptaan yang menghubungkan karya sastra tersebut dengan karya sasrta yang lain sebelumnya yang direncanakan.
Menurut para strukturalis (Culler, 1977: 137-139) pada bukunya Ratna, ada beberapa konsep penting yang harus dijelaskan agar pemahaman secara intertekstual dapat dicapai secara maksimal. Konsep-konsep tersebut diantaranya yaitu recuperation (prinsip penemuan kembali), naturalisation (prinsip untuk membuat yang semula asing menjadi biasa), motivation (prinsip penyesuaian, bahwa teks tidak arbitrer atau tidak koheren), dan vraisemblation (prinsip integrasi antara satu teks dengan teks atau sesuatu yang lain).
Sebagaimana yang telah diungkapkan oleh Teeuw(1980:12) bahwa karya sastra selalu berada dalam ketegangan antara konvensi dan inovasi. Intertekstual memberikan sesuatu yang terbaru dalam karya sastra. Dari perbandingan, pemerataan dan pengkontruksian,maka hal tersebut akhirnya membuahkan sebuah kritiksasi sastra yang di gagas lewat analisis yang diciptakan oleh pembacanya. Dalam proses interteks, konsep yang memegang peranan penting adalah hypogram. Menurut Rifaterre, hypogram sebagai struktur prateks, generator teks puitika yang mungkin merupakan kata-kata tiruan, kutipan, kompleks tematik, kata-kata tunggal, atau keseluruhan teks. Dalam bukunya Pradopo, Riffaterre mengungkapkan bahwa hipogram merupakan sajak (teks sastra) yang menjad latar penciptaan karya sastra sesudahnya. Pengarang, baik secara sadar atau tidak menggunakan hypogram untuk melahirkan matriks atau kata-kata kunci yang pada gilirannya melahirkan model dan serial varian  untuk melahirkan matriks atau kata-kata kunci yang pada gilirannya melahirkan model dan serial varian. Menurut Riffaterre, matriks, model, dan teks adalah varian hypogram.

BAB: III
Pembahasan
1.      Sinopsis
v  Sinopsis Novel Sahabat Sejati karya Tethy Ezokanzo
Persahabat orang anak yang suka masak, Aleeya dan Jehan. Aleeya adalah anak yang memiliki keahlian memasak tapi bukan koki. Keahlian itu ia temukan dan gali terus meski kegagalan selalu menghampirinya, namun berkat kegigihan dan rasa sabar Aleeya akhirnya mampu membuat masakan enak bahkan. Berita masakan enak Aleeya ternyata masuk di media massa dan mengundang banyak minat para the master chef untuk menawarkan pekerjaan yang layak bagi Aleeya sebagai koki yang terkenal didapur-dapur kerajaan. Namun dengan banyaknya tawaran itu Aleeya memutuskan untuk tidak bekerja sama dengan banyak pihak dan memilihi untuk bekerja sendiri bersama Jehan. Dengan mengorbankan sapi, Jehan mampu mendirikan restoran untuk memenuhi impian Aleeya.
Hari pertama memang tak ada pelanggan namun hari kemudian pengunjung sekaligus pembeli berjubel berdatangan di restoran “Lezat” milikiknya, hingga mereka kewalahan dan memutuskan untuk mencari pegawai, Jehan mengusulkan Thalia untuk membantu kondisi tersebut. Kedatangan Thalia sangatlah mengutungkan bagi restoran “Lezat” pasalnya Thalia memiliki menu baru, karena memang ia adalah orang yang ahli dalam bidang itu. Jehan membantu segala yang diperlukan Thalian namun perhatian Jehan memberikan tafsiran lain kepada Aleeya. Jehan lebih mengumbar kepedulian itu kepada Thalia tanpa mengurusi Aleeya lagi, segingga ia merasa tersisihkan, tapi Jehan tak peka terhadap perasaan sahabatnya itu.
Moment itu akhirnya dimanfaatkan oleh Geng Mandy, dengan personel Susana, dan Bella. Mereka bertiga menghasut keduannya sehingga dua persahabatan itu putus. Aleeya akhirnya melepas pekerjaannya di lestoran “Lezat” dan berpindah ke restoran istana milik pangeran Adam. Dan Jehan masih tetap tinggal tanpa tahu Aleeya pergi meninggalkannya. Sampai pada akhirnya ada kejadian yang sangat mengagetkan. Restoran “Lezat” kebakaran pada dini hari. Jehan tidak kuasa menahan tangisnya, dan lebih terpukul lagi bahwa kebakaran tersebut dikabarkan karena ulah Aleeya yang ingin bersaing pada sahabatnya, kabar tersebut dia dapat dari Mandy. Jehan tak percaya sahabatnya bisa berbuat seperti itu. Dan Aleeya akhirnya masuk penjara.
Namun Jehan masih ragu dengan kasus kebakaran tersebut dan mencoba menguakknya. Ternyata benar, itu bukan perbuatan Aleeya. Rupanya Aleeya dihasut dan kena hasutan Geng Mandy. Mandy pun harus menerima ganjaran atas perbuatannya, Susana dan Bella prihatin karena memasukan Mandy ke sel karena kesaksiannya, tapi persahaban mereka tak akan putus, itu adalah bukti kepedulian Susana dan bella untuk meluruskan jalan temannya. Akhirnya Aleeya terbebaskan dari tuduhan tersebut dan kembali lagi bekerja sama di restoran “Lezat” berssama Jehan dan Thalia.

v  Sinopsis Novel My Soulmate karya Azharine Purwa Jingga Zk
Ferlin adalah gadis yang suka sekali di panggil tomboy oleh teman-temannya karena memang dia teropsesi jadi seperti sahabatnya yang beneran tomboy, Minda namanya. Mereka berdua sangan harmonis seperti keluarga sendiri. Saat sedang berjalan-jalan disekitar rumahnya, tertarik dengan keluarga yang baru pindah di kampungnya. Ternyata keluarga tersebut memiliki seorang anak, Ellenia namanya. Di saat kesibukan keluarganya untuk memmindahkan barang-barang Ellenia meminta ijin main-main keluar dan ia di ijinkan.  Ferlin dan Minda akhirnya bertemu Ellenia dan akhirnya mereka bertiga bersahabat.
Mereka selalu menyamakan asesoris saat berjalan-jalan dan bermain. Kalau diantaranya menemukan temuan-temuan baru pasti mereka akan berbagi pengetahuan tentang itu. Sebelum liburan Ferlin dan keluarganya berniat untuk ke Bojonegoro. Ia membeli buku bagus pada waktu itu, “Lahtahzan for Kids”. Ferlin menawarkan bukunya pada semua sahabatnya. Tapi sebelum ia pergi ke Bojonegoro buku tersebut harus selesai dibaca Minda dan Ellenia, sahabanya. Merekapun meminjam buku tersebut.
Seperti pesannya buku itu harus ada di rumahnya sebelum ia berlibur, tapi waktu itu saat mengecek dalam rumahnya, ia tak mendapati buku itu sehingga ia menanyai semua sahabatnya itu. Ke Minda dan Ellenia, Ferlin tak percaya karena buku tersebut tidak ada di rumahnya.
Selidik punya sedilik ternya buku tersebut di simpan oleh ibunya karena Ferlin membiarkanya. Ferlin merasa bersalah karena sudah menuduh sahabatnya berbuat jahat kepadanya, padahal dialah yang berbuat jahat kepada semua sahabatnya. Akhirnya ferlin meminta maaf pada sahabatnya. Dan mereka semua kembali seperi semula, bermain bersama.
2.      Persamaan
a.      Tema
Kedua novel ini memiliki tema yang sama, yatu tentang persahabatan yang dijalin sedari kecil. Meski dalam perjalanan persahabatan itu penuh dengan tantangan yaitu karena cemburu, terhasut bahkan tersakiti tapi tetap persahabatan tak akan terkalahkan oleh zaman.
v  Pada Novel Sahabat Sejati karya Tethy Ezokanzo
“ Di…a dia sahabatku, Thalia! Sahabatku sejak kecil!” Jehan menangis sesenggukan (Tethy, 2012: 66)
Setelah Jehan menerti kabar dari Masndy bahwa Aleeya yang membakar restoran

v  Pada Novel My Soulmate karya Azharine Purwa Jingga Zk
Mereka membuat janji persahabatab bersama:
Janji persahabatan:
1.      Selalu bermain bersama
2.      Tidak akan pernah bertengkar
3.      Saling menolong
4.      Tidak boleh menghancurkan persahabatan
(Zharine, 2009: 14)
Janji bersahabatan yang dibuat dan kemudian dijadikan pedomannya selama berteman dan bermain bersama.

b.      Tokoh dan penokohan (watak)
v  Pada Novel Sahabat Sejati karya Tethy Ezokanzo
Apakah kehadiranku mengganggu? Yup aku yang jelek hanya merusak pemandangan! Aleeya sedih melihat Jehan mengacuhkannya (Tethy, 2012: 43)
Aleeya selalu mesara sendiri dan kesendiriannya mengahsdirkan solilokui.
v  Pada Novel My Soulmate karya Azharine Purwa Jingga Zk
“maaf. Ya aku mau siapin barang-barang yang akan aku bawa ke bali” jawab Ellenia pelan dia juga meminta maaf pada Ferlin yang tampak tersipu malu dan sedih karena dua sahabatnya akan bergi berlibur.
Aku tidak suka hari libur..!!! bentak dalam hati. Dia beranjak pulah setelah berpamitan. (Azherine, 2009: 29)
Begitu pula Ferlin yang kemudian bermain dengan hatinya. Selalu merasa sendirian.

c.       Sudut pandang
Dalam kedua novel tersebut sama-sama menggunakan sudut pandang akuan serba tahu yakni pengarang terlibat langsung yang menjadi tokoh dan mengetahui kisah tokoh lain, dan pengarang menyebut tokoh utama dengan “dia”

v  Pada Novel Sahabat Sejati karya Tethy Ezokanzo
Aleeya beanjak ke jejeran meja dan kursi. Ia menata dan membersihkannya dengan tekun. Namun, matanya tidak tahan untuk melirik kearaha Jehan. Ia tampak sangat akrab dengan Thalia. Tawa mereka terdengar renyah. ( Tethy, 2012: 43)

v  Pada Novel My Soulmate karya Azharine Purwa Jingga Zk
Keesokan harinya, Ferlin bangun pagi-pagi dan langsung mandi. Dia ingin mertemu dengn kucing kesayangannya… (Zherine, 2009:33)

3.      Perbedaan
a.      Penggunaan Bahasa
v  Pada Novel Sahabat Sejati karya Tethy Ezokanzo
“,maafkan aku, ya..” kata Jehan sambil menunduk.
“Aku minta maaf karena telah membuat kalian berdua jadi salah paham” kata Thalia. (Tethy, 2012: 76)

v  Pada Novel My Soulmate karya Azharine Purwa Jingga Zk
“Ellenia … maafin, ya…, ternyata bukunya dirumahku” kata Ferlin memelas (Zherine, 2009: 91)

b.      Jenjang bahasa
v  Pada Novel Sahabat Sejati karya Tethy Ezokanzo
“Hussh. Sudahlah, untuk apa memikirkan kata Koran” Aleeya lalu mengambil sapu dan meneruskan pekerjaannya membersihkan rumah. (Tethy, 2012: 6)

v  Pada Novel My Soulmate karya Azharine Purwa Jingga Zk

“ya..liburan sudah selessai.. tapi aku senang naik kelas. Kira-kira gurunya siapa ya…? Ucap Minda panjang lebar. (Zherine, 2009: 49)

c.       latar, dan seting
v  Pada Novel Sahabat Sejati karya Tethy Ezokanzo
“Hussh. Sudahlah, untuk apa memikirkan kata Koran” Aleeya lalu mengambil sapu dan meneruskan pekerjaannya membersihkan rumah. (Tethy, 2012: 6)

v  Pada Novel My Soulmate karya Azharine Purwa Jingga Zk
Tteet.teeeeet. tetttttttt
Tiba-tina bel tanda masuk kelas berbunyi keras sekali…(Zherine, 2009: 49)

4.      penentuan hipogram dan teks transformasi
Dari hubungan intertekstual dalam novel, pastilah mempunyai hipogram dan teks tranformasinya pada Novel Sahabat Sejati karya Tethy Ezokanzo dan novel My Soulmate karya Azharine Purwa Jingga Zk

v  Pada Novel Sahabat Sejati karya Tethy Ezokanzo
Tahun terbit: cetakan 2012

v  Pada Novel My Soulmate karya Azharine Purwa Jingga Zk
Tahun terbit: cetakan 2009

Kesimpulan

Kesimpulan
Dalam novel Sahabat Sejati karya Tethy Ezokanzo dan novel My Soulmate karya Azharine Purwa Jingga Zk, merupakan dua novel yang menceritakan tentang kisah persahabatan dan kesetiaan anak-anak perempuan. Terdapat kesamaan unsur yang ada di dalamnya. Keduanya memiliki peranan sebagai tema kesetiaan yang dibangun sejak dini. Tokoh Aleeya pada novel Sahabat Sejati dengan tokoh Ferlin pada novel My Soulmete memiliki sudut pandang yang sama namun pembawaan ceritanya yang berbeda karena dari jenjang umur yang tak sama.

Daftar Pustaka
Ratna, Nyoman Kutha. 2007. Sastra dan Cultural Studies Representasi Fiksi dan Fakta. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Ezokanzoo, Tethy. 2012. Sahabat Sejati. Jakarta. Al-Kausar Kids
Putwa, Azherine. 2009. My Soulmate. Bandung: Mzan
Pradopo, Rachmat Djoko. 1995. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Senin, 31 Desember 2012

Dandelion



Oleh
Minatus Sholihah

Jika kau menanyakan apa peranku dalam cerita ini, aku adalah seorang pendatang baru dalam kehidupannya. Tapi aku hanya ingin menceritakan kisah si Dandelion kecil yang kabarnya tersamat. Meskipun dia bukan tokoh dalam sejarah tapi aku ingin memajang namanya dalam-dalam di hatiku. Dialah Sinay, seseorang yang menginspirasi dalam perjalanan hidupku. Sepuluh tahun yang lalu ia menceritakan banyak hal tentang kehidupannya padaku. Entah ada angin apa, tiba-tiba teman sekamarku ingin bercerita panjang lebar denganku, bukankah sebelumnya ia begitu tertutup denganku? Dalam keseharian saja, jarang sekali aku menjumpainya mendekam dalam kamar. Aku hanya bisa bertemu dengannya pada saat tidur, itupun kalau aku terbangun pada dini hari. Memang kita dalam Universitas yang sama, namun kita beda jurusan. Dan aku juga tak begitu tahu banyak perihal duniannya. Namun kali itu beda, ia begitu akrab, begitu hangat seperti kita terlahir dari rahim yang sama. Ia mulai menata dan merajutnya dalam kisah yang menakjubkan. Mungkin jika Tuhan masih tak menginjinkan kesempatan itu datang, pasti aku tak akan jadi seperti sekarang ini. Duduk di meja tugas. Seharusnya kaulah yang pantas duduk di sini kawan. Bukan aku, karena aku tak pantas menerimanya. Kemarin adalah hari ini, esok ataupun lusa kau akan tetap sama dalam benak kami. Namanya masih terlalu harum sampai pada mereka yang sempat melupakannya. Dia juga yang mengenalnya sebagai pria aneh. Entahlah, lupa macam apa yang akhirnya mempertemukannya pada dunianya saat ini.
Aku melemparkan bayangannya pada tas dan sepatu yang masih bertengger dimeja tugasnya.

***
“Bob. Tahukah, jika angin dapat menjadikan sesuatu itu beranak pinak? Atau kepada surya yang menjadikannya kian serupanya”
“Apa yang kau bicarakan kawan? Aku tak mengerti apa maksudmu.”
“Maaf, mungkin separuh jiwaku masih tertinggal di tempat lain, aku baru saja dari semak-semak belakang kampus dan menemukan ladang bunga dandelion. Aku suka memandangi mereka sepulang dari kelas.”
“Kau ini ada-ada saja.”
“Iya karena kau tak tahu, dasar kau serangga. haha. Ya sudahlah… ternyata kau masih kawan tidurku. Dan kau tetap seperi serangga yang selalu mendenggukan agar semakin ramai saja malam. Tadi aku baru saja ketemu dengan pak Darmin. Ada yang aneh dari perkataannya.

***
“Bagaimana mereka melupakan sesesuatu yang tidak akan pernah melupakan mereka?” kata pak Darmin yang kemudian membuyarkan lamunanku.
“Apa maksud bapak” ucapku setelah menata nafas karena terkaget tadi. Aku sedikit bimbang dengan ucapan pak Darmin, sebenarnya apa yang ingin disampaikannya kepadaku. Melupakan sesuatu yang tak kan pernah melupakan? Akukah? Juga termasuk dia kah? Aku jadi penasaran apa yang dimaksudkannya.
Pak Darmin adalah lelaki tua petugas kebersihan kampus yang berumur sekitar 50 tahun. Pribadi yang baik dan santun kepada semua mahasiswa membuat pak Darmin dikenal akrab dikalangan teman-teman dan para dosen. Dia termasuk petugas yang sudah sepuh dibanding dengan yang lainnya. Satu yang membuatku bangga kepadanya, sebagai figur ayah yang baik bagi anaknya, dia hanya ingin anaknya sukses biarpun dirinya mengorbankan separuh usia untuk mereka. Dan itu membuatku tersentuh untuk melanjutkannya.
Pak Darmin menemukanku di belakang kelas, tempatku membuang segala kepenatan dunia. Di sana kita bercerita banyak. Tentang diriku, keluargaku, dan kehidupan yang aku jalani. Sebagai seorang aktifis pastinya seseorang akan membutuhkan tempat untuk melepas kepenatannya dan tempat peraduan, bahkan tempat pengasinganpun agar dapat berfikir bersih terkait dengan segala permasalahan yang ada. Pak Darminlah yang kemudian menjadi temanku. Bahkan kadang ia juga menjadi ayahku karena petuahnya yang membuatku menunggu hari esok tiba agar bertemu dengannya. Seolah mengajakku berfikir tentang hidup. Dan aku suka tantangannya.

***
Tak akan kubiarkan diriku terhanyut dalam sinar surya sore yang sedikit manja mengatupkan hari. Seperti biasa setelahku beradu dengan lamunan di belakang kelas, aku pun kembali pulang dengan membawa rasa penasaranku  dan bergegas untuk pergi ke restoran.
Putih: “Ada baiknya badanmu untuk mereka. Karena mereka membutuhanmu. Bukankah selama ini, kau ingin menjadi yang terbaik untuk mereka?” tiba-tiba suara muncul dari seberang kegelisahan.
Hitam:“Jangan terlalu baik kepada mereka. Bukankah kau sendiri harus peduli pada dirimu sendiri? Lihatlah hampir separuh hidupmu untuk keperluan mereka. Akankah itu adil?” suara itu datang lagi memberi persepsi baru tentang keadilan. Keadilan yang bagaimana? Ah. Aku masih terus jalan dan sambi lalu melintasi warung-warung yang ngerumpi tak jelas. “ Hai Sin, bagaimana persiapan acaranya, apa sudah matang?” Tanya temanku seorganisasi. “owh, ya, pasti. Semua sudah aku brefing untuk itu. Ehm, maaf aku ada urusan lain, besok kalau ada waktu kita bisa ngomong. oke ” jawabku dengan pasti dan sedikit terburu-buru karena ada suatu tempat yang ingin aku kunjungi sekarang juga. Lantas aku pergi meninggalkannya yang belum sempat membalas. Hanya dengan isyarat jari tangannya, seolah memberi jawaban Oke dan dia juga telah memaklumi untuk itu. 
Di perempatan jalan sebelum memasuki kampus, ada sebuah gang sempit. Hanya bisa dimasuki satu orang saja. Di  ujung gang itu terlihat sebuah rumah, di sana aku melihat puluhan anak beragam umur. Sebagian ada yang masih berseragam SD, SMP, dan SMA. Tampaknya mereka baru saja pulang dari sekolah. Biasan cahaya kudapatkan pada keceriaan wajah mereka.  Namun ada sebagian yang berbaju biasa aku memandang dengan cukup iba.
“Wah, mas Sin datang! Hore-hore..!” sorak mereka menyambutku. “Bagaimana kegiatan kampusnya mas? Seru nggak? Apakah di sana ada banyak ilmuannya mas?” kata Agus yang baru aku temukan seminggu yang lalu di jalan, ia berusia 10 tahun dan baru masuk sekolah. Mungkin ia sedang teropsesi ingin mengetahui banyak tentang ilmuan-ilmuan yang kata gurunya bertempatkan dikampus. Haha bisa-bisa saja bocah kecil ini. Memang anak-anak itu masih lugu. Selugu aku ketika masih kecil. Tapi bukan berarti sekarang aku tidak mengalaminya. Ah, anak kecil kamu tahu apa tentang banyak ilmuan di kampus. 
“Bisa-bisa saja. Haha. Nih, aku bawakan buku untuk kalian. Kalian baca ya, mas mau ke Ibuk dulu” jawabku dengan memainkan rambut mereka, anak-anak yang sudah aku anggap sebagai adikku sendiri terlebih sebagai anakku sendiri. Lantas aku pergi ke tempat rumah lindung mereka. Di sana aku melihat bu Nisa sedang merapikan tanaman di bale-bale rumahnya. Bu Nisa adalah perempuan yang sangat baik, berjiwa tangguh dan welas asih. Ia mampu menghidupi 50 orang yang sekarang berada dirumahnya. Saat kali pertama bertemu dengannya ia berusia 50 mungkin sekarang sudah berumur 51 lebih sedikit lebih tua. Kelopak matanya yang sayup dan mengahangatkan membuatku melihat sosok ibuku di wajah bu Nisa. Maka kucium tangannya sebagai salam hormatku padanya. Begilah yang selalu aku lakukan ketika aku datang menemuinya. Maka ia juga tak segan mencium keningku. dan air mata tak sengaja jatuh membasahi pipi saat kali pertama bertemu dengannya. Aku datang dalam kehidupannya setelah dua tahun kepergian anaknya. Mungkin ia sangat merindukan sekali sosok anaknya yang tiba-tiba mendahuluinya. Sebagai orang tua ia sangat terpukul. Biar bagaimanapun ia adalah orang pertama membesarkannya. Dan disusul suaminya yang juga meninggalkanya karena serangan jantung. Ia akhirnya hidup sendiri. Maka aku tahu salah satu faktor mengapa panti asuhan ini berdiri megah di gang ini.
Buk, niki kulo tase nggadah sak meten, monggo nyuwun ditrimo nggeh” aku berusaha mengimbangi logat jawanya. Meski sedikit aku belajar menghormatinya layaknya ibuku sendiri.
Cong la sampean wes cukup to? ojo dipekso. loro rogo loro jiwo. sa’ake awak
Mboten nopo-nopo buk. kulo tase sehat. njenengan mpon sehat buk?, obat seng kulo tumbasaku mpun dinginum?”
“sampun cong, wes gak usah kawatir ngususi ibuk, ibuk wes enek seng ngrumat. Loh delo’en toh. Cah-cah phodho seger buger berkat pean cung” sambil menunjuk anak-anak yang sedang bermain di lapangan depan rumahnya. “nggeh pon, kulo pamet bade tindak mantuk” jawabku sambil menium tangannya dan beranjak pergi meninggalkan panti.
“mas Sin. Kapan-kapan aku ajak ke kampusmu ya mas” celoteh anak-anak yang mengerti gelagat kepulanganku. “ya. Pasti. Kalian yang pinter belajarnya” samba lalu dan melambaikan tangan pada mereka.
Bayangan mereka telah jauh.
Hitam: “kadangkala mengasihi membuat orang lain merasa nyaman, hingga tidurlah ia dan lebih parahnya lagi tak akan bangun-bangun”. “siapa yang bertanya sekarang?” tanyaku dan aku diam
Putih: “kasihanilah mereka, karena berkasih akan menjadikan mereka bahagia. Dan Pak Darmin sangat bahagia” harus kuapakan diriku sekarang. Entah darimana asal muasal suara itu. Semakin lama semakin jelas tak tentu. Bukankah ini hidupku? Hidup yang harus aku jalani sendiri dan kelak jika tiba waktuku juga.
Tiba-tiba perasaan ingin kembali ke kampus. Entahlah, apakah ada kesalahan dengan urat sarafku yang seolah memberi komando untuk datang kesana. Hari semakin sore tapi aku hanya ingin bercengkrama di balkon kampus. Membayangkan langit yang kian senja. Senja karena selalu dipandangi manusia. Mungkin ia sedang malu dan ingin cepat-cepat menutup katup matanya hingga malam jadi lekat. Warna kuning pelan-pelan merayap hangat menyentuh tubuhku. Membuat nyaman untuk memejamkan sementara dari sang cerewet dunia. Karena memang dunia sudah renta. Diam dan mematung hingga tubuhku terpenuhi sudah cahaya kuning.
“bagaimana mereka melupakan sesuatu yang tak akan pernah melupakan mereka?” bayang-bayang kata itu kian mengintrogasi pikiranku. Seakan melilitkan kata-kata dalam sel-sel otakku. Memainkan segala pusaran waktu dan memalingkan segala permasalahan yang ada didunia.
Hitam: “bukankah duniamu bukan sepenuhnya milikmu, bukankah kau ingin menikmati dirimu menjadi dirimu yang spenuhnya dirimu” ya memang ini bukan dunia milikku. Ini miliki mereka. Dan kau!
Putih: “bukankah kau sendiri ingin menjadi lebih baik untuk dirimu agar dapat memberikan yang baik untuk mereka, jadi bukan berarti dirimu hanya untuk dirimu” mereka juga perlu aku tapi apa peduli mereka. Ah, siapa kamu? Siapa mereka? Siapa aku?
[Hai, bukankah kau ingin sekali agar aku ini diriku. Yah ini aku yang sepenuhnya diriku, maka jangan kau dekte aku saja. Dan kau ingin agar aku peduli mereka. Yah, itu sudah dan apa pedulimu tentang aku. Maka tak usahlah kau peduli. Aku bisa menjaganya. Hanya kalian yang susah sekali berdiskusi. Lekas berdamai atau pergi dalam kehidupanku…]
Hitam-Putih: “Terus untuk apa kita ada, bukankah juga untuk menjadi kacungmu. Paham kita berbeda. Dan kau memaksa mendamaikan kita? Putih tak selamanya bisa menjadi hitam dan hitam tak akan selamanya bisa menjadi putih. Mungkin abu-abu. Apakah kau mengaharapkan jadi abu-abu? Tapi kami tak suka warna itu. Ya sudahlah, biarkan kita berdamai dengan cara terbaik kami”.
Sesuatu apa yang tak akan pernah melupakan? Mungkinkah waktu? Tapi ia selalu mengingatkanku. Apakah sesuatu yang akan menjadi tiada? Bukankah dia kematian? Yah mungkin. Akhirnya waktu juga masih mengingatkanku untuk membuka mata karena hari memang sudah larut, aku termanggu menahan segala jawaban yang bagiku belum pasti.
“apakah sudah menemukan jawabannya?” aku tersentak dalam sepi pada suara yang tiba-tiba datang. Bergema memalingkan semua persepsi-persepsi yang belum pasti.
“owh, pak Darmin. Mengagetkan saja. Em, aku masih ragu akan jawabannya pak. Em, apakah kematian yang bapak maksud?” seraya menata detak jantungku dan kembali meraba-raba respon apa yang mau terlontar dari ucap pak Damri.
“lantas apa yang sudah kau dapatkan dengan itu? Jadilah seperti dandelion, bunga kecil yang mereka acuhkan itu. Dan kelak kau akan menemukan arti yang sebenarnya dalam kehidupanmu. Ingat semua yang tercipta tidak akan pernah bisa lari dari kebermanfaatan dirinya” lagi-lagi aku terjerambat dengan ucapannya. Seperti harga mati aku menerimanya dan terjerumu dalam rumus-rumus yang kian hari semakin menerorku. “em, pak.. a..” ia sudah melangkah lebih jauh dari hadapanku. Ah, pak Darmin, sudahlah dia selalu menghilah saatku ingin berusaha menanyakan jawabannya itu. Maka aku kembali mengambil alih diriku pergi ke Restoran untuk bekerja. Hampir seluruh biaya hidupku bertumpu pada hasil jerih payah kerja paruh waktu. Yang paling pokok pertama adalah biaya kuliah. Aku sudah berkomitmen pada orang tua bahwa aku mampu untuk hidup mandiri, maka akan aku tunjukan pada mereka bahwa aku bisa mengurusi hidupku tanpa mereka. Karena mereka selalu saja protektif padaku sekarang adalah waktunya untukku mengambil alih diriku. Paling pokok kedua adalah jatah untuk bu Nisa dan adik-adik di panti. Dan sisanya untuk tabungan dan jatah makanku. Haha.. paling tidak aku dapat membahagiakan mereka dengan tempat duduk dan ruangan yang bersih agar mereka dapat belajar dengan tenang. Dapatkah aku membangun sebuah sekolah untuk mereka, Bob?
***

kabari aku sekali lagi. Sin
tentang dandelion kecil yang tersamat,
pada celah reranting.
ini, aku sedang membawa bayangannya
bahwa badai sebentar lagi datang
membawanya berhijrah pada lajur yang disuka
kelak, Sin

sendu akan jadi sadiwara angin
luka akan jadi penawar stepa
itu, masihku menunggu ribu kebenaran lain.
tentang angin yang membawanya lari.
mungkin pada stepa ia mengabdi
mungkin pada angin ia mengingkari
juga pada surya ia mempelajari

sekali terang redub pada ciuman angin
tertitipkanlah seribu bekas
yang menjelma lautan janin
dan kembali angin semakin gemas
menelurkanya pada kepala bumi
agar menutupi kebotakan
merindu pada musik alam pertama.

Sin, apakah kau masih ingat kisah dandelion kecil yang sempat kau ceritakan padaku kapan hari? Sekarang ia terbang entah kemana. Mewarnai rimbun yang liar dari pandangan manusia namun tidak bagi para serangga. Karena serangga bisa hidup didalamnya. Dan aku temukan kau kembali disini Sin, engkaulah Dandelion kecil itu, yang kemarin kabarnya tersemat. Namun hari ini akan tumbuh bersama sinar mentari peradaban. Sudahku penuhi permintaanmu. Membuatkan sekolah dari hasil tabunganmu selama kau bekerja paruh waktu dulu. Kau sudah bekerja keras Sin, semoga kau akan tersenyum disana.

 –sekian-

















Biodata

Minatus Sholihah, lahir pada 22 Februari 1992, di Desa Pantura, Dengok Kandangsemangkon, Paciran, Lamongan. Ia masih berstatus sebagai mahasiswa di Universitas Negeri Surabaya (Unesa), angkatan 2010. Aktif di Himpunan Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Sekretaris Tabloid Gema Unesa, anggota majalah Widiawara, anggota Komunitas Rabo Sore (KRS), dan Bulan Purnama (kumpulan teater fakultas). Beberapa tulisannya pernah termuat di tabloit Gema Unesa.  Fb: Meena Sang Surya, Blog: minasangsurya.blogspot.com, dan E-mail: s.minatus@gmail.com